Alfamidi Tambah 29 Outlet Tahun Ini

PT Midi Utama Indonesia, pengelola Alfamidi, akan memperluas pasar pada tahun ini dengan membuka 29 outlet baru di Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Sulawesi Barat (Sulbar).

Ekspansi tersebut akan menambah total outlet Alfamidi yang beroperasi di daerah ini menjadi 151 unit dari akhir 2014 sebanyak 122 unit. Outlet nantinya menyasar kabupaten/ kota.

Dengan investasi minimal Rp 510 juta per gerai untuk peralatan, rak, serta sewa lahan atau bangunan. Belum termasuk barang atau produk jualan. Standar bangunan atau rumah toko (ruko) untuk setiap gerai minimal 220 meter persegi (m2).

“Estimasinya satu kota/kabupaten tambah satu outlet. Kami menyasar daerah karena di Makassar konsep mart ini sudah menjamur,” dan masyarakat cenderung jenuh,” kata Branch Manager PT Midi Utama Indonesia Makassar, Martadi, saat berkunjung ke kantor Tribun Timur, Jl Cendrawasih, Makassar, Rabu (21/1/2015).

Hadir Lisence Coordinator Gunawan, Merchandising Manager Agus Saifudin, Marketing Manager Sindi Indah, dan Corporate Communication PT Sumber Alfaria Trijaya Ulfa. Selain izin dari pemerintah, pemilihan daerah outlet baru tersebut disesuaikan dengan aktivitas perekonomian masyarakat.

“Pembukaan outlet juga mempertimbangkan jarak antara outlet satu dengan yang lain. Kami tidak serta merta membuka cabang tanpa melalui proses survei terlebih dahulu,” katanya.

Konsep Gerai Alfamidi hadir dengan varian produk lebih lengkap terdiri dari tiga bagian barang yakni grosir meliputi barang kemasan berupa makanan, minuman, dan alat kebutuhan dapur.

Kosmetik termasuk di dalamnya alat mandi dan alat kosmetik, serta fresh (komoditi segar) seperti sayur, buah-buahan, dan lainnya. Divisi fresh inilah yang membedakan dengan gerai minimarket lainnya.

Gerai Alfamidi memiliki grade lebih besar dengan total 6.000 item barang atau produk jualan. Lebih besar dari “saudaranya” Alfamart yang menawarkan sekitar 3.000 item produk dalam satu gerai. Martadi menjelaskan sejauh ini konstribusi penjualan terbesar disetiap gerai dari produk grosir dan kosmetik.

Sedangkan, komoditi segar hanya sekitar 20 persen. “Selama ini warga Makassar belum terlalu aktif berbelanja sayur dan buah,” ujarnya.(nie)